4. Stres Awal Munculnya Penyakit Psikis dan Fisik

  Seseorang dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, motif, tujuan dan harapan,   tidak selalu mencapainya dengan lancar. Banyak hambatan yang dihadapi. Bahkan tidak sedikit yang gagal. Keadaan psikis saat merasakan ada beban terhambatnya tujuan, disebut frustrasi. Keadaan frustasi yang berlangsung lebih dari 2 minggu dan tidak segera mampu diatasi akan meningkat menjadi stres. 

Stres merupakan kondisi psikis seseorang yang sedang mengalami tekanan  mental berat melebihi kemampuan untuk mengatasi beban tersebut. Stres  mengakibatkan terganggunya kemampuan berfikir, meningkatnya perasaan cemas, murung, emosional, jengkel yang menumpuk dan tidak tahu jalan keluarnya. Lebih lanjut stres akan  menurunkan gairah untuk melakukan pekerjaan atau kegiatan sehari-hari.  Secara fisik, stres ditandai dengan gejala mulut dan kerongkongan sering terasa kering, nafas pendek dan dangkal, detak jantung lebih cepat dari biasanya, gampang berdebar, sering pusing, badan dingin.

Sumber stres (Stresor) antara lain, kegagalan dalam hidup misalnya di-PHK , perceraian, berpisah dengan orang yang dicintai misalnya orang tua atau anak meninggal atau , orang yang hidup dalam lingkungan penuh ancaman, misalnya anak yang orang tuanya keras sering membentak atau memukul, orang yang mengalami peristiwa traumatik,  beban pekerjaan yang banyak sehingga menimbulkan tekanan mental. Stresor adalah segala hal atau segala situasi interaksi dan pengalaman hidup yang menimbulkan perasaan was-was, takut, khawatir, kecewa, tertekan, sedih, benci, kecewa, sakit hati, dendam, dll.

Stres merupakan awal terjadinya berbagai gangguan psikis lain yang lebih parah serta awal mula munculnya penyakit fisik  bila stres tidak segera diatasi dengan baik.  Menurut Hans Selye seorang psikolog klinis Jerman, stres berkembang dalam 3 tahap : (1) Tahap Siaga/Alarm Reaction, (2) Tahap Adaptasi /Resistance Stage, (3) Tahap Kelelahan / Exhaustion Stage.

(1) Tahap Siaga/Alarm Reaction. Ketika seseorang menghadapi stresor, maka bagian otak yang bernama Hipotalamus melakukan reaksi dengan memompa hormon untuk menstimulir kelenjar Pituari. Kelenjar Pituari ini segera menghasilkan hormon ACTH (adrenocorticotrophic hormone) untuk menstimulir kelenjar adrenal agar menghasilkan dan memompa hormon stres/kortikosteroid dan hormon efinefrin dan non efinefrin untuk mendinginkan tegangan stres.

Akibat pelepasan kortikosteroid , efinefrin dan non efinefrin membuat detak jantung , nafas, dan ekanan darah meningkat. Aliran darah berpindah dari organ dalam ke dalam otot rangka. Otot menjadi kaku dan pencernaan terganggu sehingga menimbulkan perut melilit dan pembekuan darah meningkat. Dalam kondisi seperti ini tubuh siap-siap untuk melawan atau lari dari ancaman stresor. Proses inilah yang disebut Mekanisme Endoktrin. 

(2) Tahap Adaptasi/Resistance Stage. Bila stres berlangsung terus menerus, maka kondisi orang yang mengalami stres segera memasuki situasi adaptasi, yang ditandai dengan : Terjadi respon endoktrin secara terus menerus. Tubuh membentuk tenaga baru dan memperbaiki sel-sel yang rusak yang disebabkan oleh  pemompaan hormon Kortikosteroid selama terjadi stres.

(3) Tahap Kelelahan / Exhaustion Stage. Apabila stres masih terus berlanjut atau disusul stres baru yang semakin memperburuk kondisi psikologis, maka kondisi orang stres ini memasuki tahap kelelahan atau kronis. Dalam stres kronis , sistem endoktrin didominasi oleh syaraf otonom (autonomic nervous system – ANS) yang terus menstimuli kelenjar adrenal untuk melepas zat kimia catecholamine efinefrina (adrenalin) dan non adrenalin ke dalam aliran darah. Akibatnya kecepatan nafas menurun, sehingga menimbulkan efek ketenangan palsu. Dalam ketenangan palsu ini terjadi proses pelemahan daya kekebalan tubuh. Tubuh mengalami ‘penyakit adaptasi’ (diseas of adaptation) dalam rentang waktu lama, mulai munculnya reaksi alergi hingga munculnya penyakit berat seperti jantung, diabetis, dll.

Dalam tahap stres kelelahan, hormon kortikosteroid tersekresi/terpompa terus menerus dan bisa menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh dengan cara menghambat produksi antibodi, sehingga sel darah putih (leukocytes) menjadi tidak mencukupi dan lemah. Itulah sebabnya orang stres tubuhnya mudah terjangkit penyakit.

Tidak saja stres mengakibatkan lemahnya kekebalan tubuh, stres  juga mengakibatkan terganggunya keseimbangan psikologis. Ketika hormon kortikosteroid tersekresi/terpompa terus menerus juga  merusak zak kimiawi dalam otak yang disebut zat neurotransmiter yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan  psikis.  Ketika keseimbangan ini terganggu akan muncul gejala gangguan psikis mulai dari yang ringan seperti fobia, anxietas, obsesif kompulsif, alzheimer, bipolar, unipolar, siklotimik, histeria, insomnia, skizoprenia,dll.

Zat neurotransmiter antara lain Asetilkolin, yang berfungsi menjaga stabilitas pikiran. Kekurangan atau kelebihan asetilkolin mengakibatkan penyakit alzheimer, ditandai dengan kehilangan ingatan, dan disfungsi kognisi secara progresif.

Zat neurotransmiter Dopamin bisa meningkat jumlahnya saat stres, berakibat munculnya penyakit skizoprenia, ditandai dengan halusinasi, pikiran delusi, pembicaraan tidak koheren/ tidak logis, melompat-lompat dan tidak bersambung antara satu kata dengan kata lainnya.

Zat neurotransmiter Serotonin berfungsi mengatur kondisi mood, kepuasan, dan tidur. Kekurangan Serotonin dalam otak dapat menyebabkan gangguan mood seperti penyakit bipolar, distimik, siklotimik, depresi, dll.

Orang yang sedang mengidap stres akut sering tidak merasa atau tidak mengakui dirinya sedang mengalami stres. Mereka masih mampu menjalankan aktvfitas dan pekerjaanya sehari-hari secara normal, namun diwarnai dengan kecenderungan perilaku emosional, mudah marah dan tersinggung, bicara sarkastik, suka memerintah teman selevel, atau  berperilaku menyebalkan lainya.

Hipnoterapi dapat mengatasi stres dengan mekanisme relaksasi pikiran bawah sadar pada gelombang otak alfa (8 Hz- 12 Hz) ataupun pada gelombang Theta (4Hz – 8Hz). Proses penurunan gelombang otak ini dilakukan dengan mekanisme induksi verbal. Klien dikondisikan untuk setengah tidur (trance). Metode ini sangat alami dan tidak membawa efek negatif apapun.

Dalam dua gelombang otak ini seseorang dibawah untuk menjadi tenang sedalam-dalamnya. Selanjutnya alam bawah sadar disugesti untuk mengurangi atau menghilangkan emosi yang menjadi tekanan masalah hidup yang selama ini menimbulkan stres. Dengan hipnoterapi, gejala stres diminimalisir agar  tidak berkembang hingga mengganggu keseimbangan sistem kekebalan tubuh (leukocytes) dan sistem keseimbangan psikis (Neurotransmiter).

(www.pengobatan-hipnoterapi.com/Drs. Muslimin, M.Si, CHt adalah Profesional Hypnotherapist authorized by Indonesian Board of Hypnotherapu (IBH) Jakarta, registrasi nomor 15340) 

Sumber Pustaka : 

Nevid, Jefrrey S, at.al, Psikologi Abnormal, 2005, Jakarta, penerbit Erlangga.
Markam, Suprapti Slamet I.S. Sumarmo,  2015, Pengantar Psikologi Klinis, Jakarta,  UI Presss.
Arumwardhani, Arie,Dr, 2011,  Psikologi Kesehatan, Yogyakarta, Galangpress
Sundburg, Norman D. at.al ; 2007, Psikologi Klinis, Perkembangan Teori, Praktik, dan Penelitian, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
IBH, 2015, Advanced Hynotherapy, Certified Hypnotherapist (CHt) Student Manual, Jakarta, The Indonesian Board of Hypnotherapy.
IBH, 2015, Professional  Hypnotherapy, CertifiedProfessional  Hypnotherapist (CHt) Student Manual, Jakarta, The Indonesian Board of Hypnotherapy.